Black - Oreo
Oreo? Manis, tapi berwarna hitam.
Namun sayangnya, hidup mengajarkan kita bahwa yang berwarana gelap tak selalu memiliki sisi buruk.
Begitupun rasa.
***
"Mau pesen apa lo?" Temanku menanyakan pesanan setelah kita mendapat tempat duduk yang pas.
"Biasa" Jawab ku enteng, masih sibuk memainkan ponsel tanpa menoleh.
"Black Oreo kan? Ga makan lo?" Tepat.
"Gak, masih kenyang". Dia pun berlalu untuk memesan minumanku.
Chat Line
Dana Prasetyo : Dimana?
Fesya : Hatimu
Dana Prasetyo : Lucu? Kaga pisan
Fesya. : Kan yang lucu gue
Dana Prasetyo : Terserah lo
Fesya : Yah ngambek, di cafe
Dana Prasetyo : Ko gabilang gue
Fesya : Lo sibuk, males.
Dana Prasetyo : Maaf, gue kesana ya?
Fesya : Gakperlu
Please, Dia kesini please. Duh bego
Please jangan jawab -
Dana Prasetyo : Yaudah
Dana Prasetyo : Dimana?
Fesya : Hatimu
Dana Prasetyo : Lucu? Kaga pisan
Fesya. : Kan yang lucu gue
Dana Prasetyo : Terserah lo
Fesya : Yah ngambek, di cafe
Dana Prasetyo : Ko gabilang gue
Fesya : Lo sibuk, males.
Dana Prasetyo : Maaf, gue kesana ya?
Fesya : Gakperlu
Please, Dia kesini please. Duh bego
Please jangan jawab -
Dana Prasetyo : Yaudah
-Yaudah.
Ok. Kali ini aku salah, tapi bukan perempuan namanya kalau tidak dapat membohongi perasaannya sendiri, mana ada sih perepempuan yang tak memiliki gengsi?
Aku menaruh ponsel ku. Kesal.
Ok. Kali ini aku salah, tapi bukan perempuan namanya kalau tidak dapat membohongi perasaannya sendiri, mana ada sih perepempuan yang tak memiliki gengsi?
Aku menaruh ponsel ku. Kesal.
Pesanan ku datang.
"Kenapa muka lo? Cucian dirumah gue kalah lecek sama tampang lo tau ga?" cetus temanku saat Ia melihatku.
"Mana gue tau, Gue gapernah liat cucian lo" mungkin mataku saat melirik kali ini dapat membunuhnya seketika.
"Yaudah si, diminum tuh. Terus cepetan balik udah malem"
"Bacot"
"Serah"
"Bodo"
"Amat"
"Setan"
"Anjing"
"Kucing"
"Singa"
"Belalang"
"Kupu - kupu, siang makan nasi malem minum susu" Dia bernyanyi dan kami pun tertawa, melupakan ke-sinis-an yang sempat terjadi.
"Mana gue tau, Gue gapernah liat cucian lo" mungkin mataku saat melirik kali ini dapat membunuhnya seketika.
"Yaudah si, diminum tuh. Terus cepetan balik udah malem"
"Bacot"
"Serah"
"Bodo"
"Amat"
"Setan"
"Anjing"
"Kucing"
"Singa"
"Belalang"
"Kupu - kupu, siang makan nasi malem minum susu" Dia bernyanyi dan kami pun tertawa, melupakan ke-sinis-an yang sempat terjadi.
Setiap orang disekelilingku selalu mampu membuat ku tertawa dalam keadaan apapun.
Ya, apapun. Kalian yang membaca ini harus percaya padaku.
Ya, apapun. Kalian yang membaca ini harus percaya padaku.
***
Aku merebahkan badanku di kasur, tulangku rasanya hendak copot dari tempatnya.
Seharian berkeliling membuat kaki ku benar benar lelah.
Aku baru saja hendak merapatkan mataku ketika notifikasi line ku berbunyi.
Aku merebahkan badanku di kasur, tulangku rasanya hendak copot dari tempatnya.
Seharian berkeliling membuat kaki ku benar benar lelah.
Aku baru saja hendak merapatkan mataku ketika notifikasi line ku berbunyi.
Dana Prasetyo : Dimana lo?
Fesya : Gue berasa punya bodyguard tau ga
Dana Prasetyo : Yaudah jawab aja si, Ribet
Fesya : Dirumah
Dana Prasetyo : Ok, gue depan rumah lo
Fesya : Sorry, gue bukan anak secret
Dana Prasetyo : Keluar bego, banyak nyamuk
Fesya : Tapi gue gabisa dikadalin
"Ka, ada temennya tuh" Ayah memanggilku. Aku bergegas lari kebawah. Anjrit, Dana! batinku berteriak.
"Sorry tadi gabisa ikut" Dana berkata sambil memberikan bungkusan berisi Black Oreo di tangannya.
"Iya gapapa, barusan gue kira lo bohong" Tukas ku sedikit ragu.
"Ye dodol, udah ah gue balik ya. Love you" Ia berkata sambil tersenyum.
"Makasih ya, kapan kapan bawain lagiiii. Loveyoutoo."
Dana pun berlalu, sayangnya "kapan-kapan" itu tidak akan pernah terjadi.
Fesya : Gue berasa punya bodyguard tau ga
Dana Prasetyo : Yaudah jawab aja si, Ribet
Fesya : Dirumah
Dana Prasetyo : Ok, gue depan rumah lo
Fesya : Sorry, gue bukan anak secret
Dana Prasetyo : Keluar bego, banyak nyamuk
Fesya : Tapi gue gabisa dikadalin
"Ka, ada temennya tuh" Ayah memanggilku. Aku bergegas lari kebawah. Anjrit, Dana! batinku berteriak.
"Sorry tadi gabisa ikut" Dana berkata sambil memberikan bungkusan berisi Black Oreo di tangannya.
"Iya gapapa, barusan gue kira lo bohong" Tukas ku sedikit ragu.
"Ye dodol, udah ah gue balik ya. Love you" Ia berkata sambil tersenyum.
"Makasih ya, kapan kapan bawain lagiiii. Loveyoutoo."
Dana pun berlalu, sayangnya "kapan-kapan" itu tidak akan pernah terjadi.
***
3 Bulan kemudian...
Fesya : Kita sampe disini aja ya?
Dana Prasetyo : Gamau ca
Hatiku kalut, lagi-lagi perpisahan menghadangku. Aku yang salah, tidak mau mengalah pada perasaanku.
Ego ku bermain main menyerukan kata putus di kepalaku. Entah, kali ini aku tak bisa lagi memaafkannya, Aku memang menyayanginya tapi sabarnya manusia ada batasnya kan?
Dana Prasetyo : Ca jangan diem
Fesya : Kita selesai.
Dana Prasetyo : Gamau ca
Hatiku kalut, lagi-lagi perpisahan menghadangku. Aku yang salah, tidak mau mengalah pada perasaanku.
Ego ku bermain main menyerukan kata putus di kepalaku. Entah, kali ini aku tak bisa lagi memaafkannya, Aku memang menyayanginya tapi sabarnya manusia ada batasnya kan?
Dana Prasetyo : Ca jangan diem
Fesya : Kita selesai.
Selesai, batinku mengingatkan. Seperti ada rekaman yang diulang terus menerus dikepalaku.
Memaksa otakku mengingat memory yang harusnya ku arsipkan, membuka kembali lembaran lembaran lama yang telah ku simpan dengan baik. Menghasilkan air yang mendobrak kelopak mataku, meruntuhkan pertahananku kali ini.
Memaksa otakku mengingat memory yang harusnya ku arsipkan, membuka kembali lembaran lembaran lama yang telah ku simpan dengan baik. Menghasilkan air yang mendobrak kelopak mataku, meruntuhkan pertahananku kali ini.
Aku menangis lagi. Padahal Aku sudah berakata, Aku tidak boleh meneteskan air yang rasanya begitu menyesakkan ini.
Tapi apa? setiap perpisahan pasti menuai luka, menuai titik baru pada setiap orang untuk merasakannya. Tak peduli apa penyebabnya, tetap saja perpisahan pasti menuai luka.
Tapi apa? setiap perpisahan pasti menuai luka, menuai titik baru pada setiap orang untuk merasakannya. Tak peduli apa penyebabnya, tetap saja perpisahan pasti menuai luka.
Kali ini, Black Oreo "kapan-kapan" sudah pasti tidak akan terjadi.
***
Aku seseorang yang percaya, pasti disetiap pertemuan ada perpisahan.
Disetiap senyum pasti ada luka.
Disetiap luka ada cerita.
Seperti Black Oreo ditanganmu.
Anggap saja Ia terbalut hitamnya luka.
Tetapi manisnya meresap sampai ujung lidah.
Bolehkah Aku berharap?
Semoga ada yang lebih baik dariku.
Menggantikan posisiku dihatimu.
Begitupun dengan ku.
Bukankah setiap yang pergi pasti ada yang datang?
Percayalah, ini yang terbaik.
Persiapkan dirimu untuk menjadi lebih baik.
Karena pada waktunya kamu akan bertemu bahagiamu.
Aku, Menyangimu....
Selalu.

Komentar
Posting Komentar